Gedebog pisang adalah bagian batang pisang yang tersisa setelah buahnya dipanen. Di banyak desa, termasuk di Bojonegoro, gedebog pisang umumnya dianggap limbah kebun, dibiarkan membusuk, dibuang, atau paling jauh hanya dimanfaatkan secara terbatas. Padahal, di balik teksturnya yang berserat, gedebog pisang menyimpan potensi besar sebagai bahan baku kriya yang ramah lingkungan. Potensi ini sudah berkembang di berbagai daerah lain, namun di Bojonegoro, pemanfaatannya masih sangat terbatas dan belum terhubung dengan pasar yang memberi nilai adil bagi pengrajinnya. Kondisi inilah yang menjadi titik awal hadirnya Program Penyediaan Akses Pasar bagi UMKM di Kabupaten Bojonegoro Tahun 2025. Program ini berangkat dari satu pertanyaan mendasar: bagaimana potensi lokal yang selama ini terpinggirkan bisa benar-benar menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat?

Potensi Besar, Tantangan Nyata

Di Desa Gedongarum dan Kedungprimpen, sebagian warga, terutama perempuan telah mengolah gedebog pisang menjadi tali dan produk sederhana sebagai aktivitas sambilan. Namun, keterampilan ini belum didukung oleh akses pengetahuan, kelembagaan usaha, dan pasar yang memadai.

Produk umumnya dijual dalam bentuk bahan mentah dengan harga rendah, sekitar Rp5.000–7.000 per kilogram, dan bergantung pada tengkulak lokal. Kondisi ini membuat posisi tawar pengrajin lemah dan ruang untuk berkembang sangat terbatas, padahal, permintaan terhadap produk kriya berbasis serat alami dan limbah organik terus meningkat. Kesenjangan inilah yang terlihat jelas di Bojonegoro: potensi dan keterampilan sudah ada, tetapi belum terhubung dengan akses pasar yang berkelanjutan.

Pendekatan Program

Pendekatan program dimulai dengan penguatan pelaku UMKM, sebelum masuk pada pengembangan produk dan akses pasar.

Hasil baseline study dan riset pasar menunjukkan bahwa tantangan utama UMKM tidak hanya terletak pada kualitas produk, tetapi juga pada perencanaan usaha, kerja kolektif, dan kesiapan menghadapi pasar. Karena itu, pendampingan dirancang secara bertahap dan saling terhubung, agar perubahan dapat berjalan secara realistis dan berkelanjutan.

Tahap awal dilakukan melalui pelatihan Gender Action Learning for Sustainability (GALS). Pada tahap ini, peserta diajak untuk merefleksikan tujuan pribadi dan usaha, memahami peran dalam keluarga dan kelompok, serta membangun kesepahaman bersama. Proses ini menjadi dasar untuk menumbuhkan komitmen dan rasa memiliki terhadap usaha yang dijalankan.

Selanjutnya, program berfokus pada penguatan kelembagaan usaha. Peserta belajar membangun kerja kelompok yang lebih tertata, menyepakati aturan bersama, serta membagi peran sesuai kapasitas masing-masing, agar usaha tidak bergantung pada individu semata.

Penguatan kapasitas kemudian dilanjutkan melalui pelatihan kewirausahaan, dengan pendekatan design thinking, strategi merek, dan literasi keuangan sederhana. Peserta didorong untuk memahami kebutuhan pasar dan mulai melihat usahanya sebagai proses yang dapat direncanakan dan dikembangkan.

Tahap berikutnya adalah pendampingan inovasi produk dan konsultasi usaha, yang berfokus pada peningkatan kualitas, kesiapan produksi, serta kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar. Pada tahap akhir, UMKM difasilitasi untuk terhubung dengan akses pasar, sehingga proses pendampingan berujung pada praktik usaha yang nyata, bukan berhenti pada pelatihan semata.

Pendekatan ini menempatkan pelaku UMKM sebagai aktor utama dalam proses pengembangan usaha, dengan pendampingan yang memberi ruang belajar, waktu, dan proses untuk bertumbuh secara bertahap.

Inovasi Produk dan Dampak yang Terjadi

Pendampingan inovasi produk difokuskan pada peningkatan kualitas dan nilai tambah dari olahan gedebog pisang. Berangkat dari keterampilan dasar yang telah dimiliki, peserta mengembangkan produk kriya seperti keranjang buah, tas hampers beras, dan pouch rajut, dengan perhatian pada fungsi, kerapian, dan konsistensi kualitas.

Melalui proses ini, UMKM tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga memahami standar yang dibutuhkan pasar. Produk yang sebelumnya dijual sebagai bahan mentah mulai diolah dan dipasarkan sebagai produk bernilai lebih tinggi.

Perubahan ini berdampak langsung pada akses pasar dan pendapatan. UMKM mulai terhubung dengan pembeli di luar daerah, termasuk Bali, Kalimantan Barat, dan Jakarta. Harga jual pun meningkat signifikan. Jika sebelumnya 1 kilogram tali gedebog pisang hanya dihargai sekitar Rp5.000–7.000, setelah pendampingan nilainya meningkat hingga Rp50.000–100.000 per kilogram, tergantung kualitas dan kebutuhan pembeli.

Dalam waktu pelaksanaan program, dampak yang terlihat antara lain:

  • 26 peserta terlibat sejak awal pendampingan
  • 13 peserta membentuk kelompok usaha aktif
  • 3 produk inovatif berhasil dikembangkan
  • Peningkatan pengetahuan peserta mencapai 63%
  • Pendapatan peserta meningkat rata-rata sekitar 68–69%

Lebih dari sekadar angka, perubahan juga terlihat pada cara pelaku UMKM menjalankan usahanya. Peserta menjadi lebih percaya diri, berani berinovasi, dan mulai memposisikan diri sebagai pelaku usaha yang siap berhubungan langsung dengan pasar. Pendampingan ini membuka jalan bagi UMKM untuk tidak sekadar bertahan, tetapi mulai bertumbuh secara lebih berkelanjutan. Hal tersebut juga dirasakan langsung oleh para pendamping dan pelaku di lapangan, R.R Gita Noerwardhani, Expert Kriya Debog Pisang (Founder seratnusa) “Program pendampingan yang difasilitasi oleh Du Anyam bersama ExxonMobil di Desa Gedongarum dan Kedungprimpen Kecamatan Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur memberikan pengalaman yang sangat bermakna bagi saya . Pendampingan ini tidak hanya berfokus pada penguatan keterampilan produksi, tetapi juga menyentuh aspek kelembagaan, tata kelola kelompok, hingga konsultasi usaha yang bisa diaplikasikan langsung dalam usaha para perajin gedebog pisang.Melalui proses pendampingan yang partisipatif dan berkelanjutan, para perajin mulai memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kualitas produk, perencanaan usaha sederhana, serta potensi pengembangan nilai tambah dari limbah gedebog pisang. Program ini turut menumbuhkan rasa percaya diri perajin, khususnya para perempuan untuk melihat dirinya sebagai pelaku usaha yang berdaya dan memiliki peran penting dalam ekonomi lokal.Ke depan,saya berharap pendampingan ini dapat terus berlanjut dan diperluas, baik dari sisi peningkatan kapasitas produksi, akses pasar, maupun penguatan jejaring kolaborasi. Dengan dukungan yang konsisten dari Du Anyam dan ExxonMobil, inisiatif ini berpotensi menjadi model pemberdayaan perajin berbasis ekonomi sirkular yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di wilayah lain.”

Pengalaman ini mempertegas bahwa pendampingan yang tepat tidak hanya meningkatkan kapasitas usaha, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan cara pandang baru bagi para perajin dalam melihat potensi usahanya.

Program ini menunjukkan bahwa potensi lokal dapat tumbuh ketika didukung oleh proses belajar, pendampingan yang konsisten, dan akses pasar yang tepat. Melalui kolaborasi Yayasan Karya Dua Anyam bersama Exxon, UMKM di Gedongarum dan Kedungprimpen mulai melangkah menuju usaha yang lebih berdaya dan berkelanjutan. Gedebog pisang yang sebelumnya dianggap sisa kini memiliki nilai baru, sebagai bagian dari perjalanan usaha dan kepercayaan diri pelaku UMKM untuk tumbuh.


Mari Bergerak Berdaya Bersama!