Sebagai lembaga resmi di bawah Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM), Smesco berkomitmen untuk membantu pengembangan usaha kecil dan menengah di seluruh Indonesia.

Dari semua komoditas perkebunan yang ada, lontar merupakan salah satu produk unggulan yang potensial dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Pohon lontar banyak ditemui di wilayah pesisir beriklim kering, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di NTT, pohon lontar merupakan simbol keberlanjutan bagi masyarakat Flores Timur karena memiliki sejumlah manfaat. Batangnya yang kokoh kerap dijadikan sebagai bahan bangunan atau jembatan. Sementara itu, pelepah dan daunnya dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan anyaman.

Sejauh ini, terdapat lebih dari 15 produk turunan lontar yang bernilai ekonomi. Dari total nilai tersebut, 27 persen diantaranya merupakan kontribusi dari penganyam perempuan di NTT.

Potensi itulah yang dilihat oleh Du Anyam sebagai kewirausahaan sosial yang telah memberdayakan lebih dari 1.600 penganyam perempuan di sekitar 54 desa yang tersebar di NTT, Kalimantan Selatan, dan Papua. Semua karya para penganyam lokal ini adalah produk anyaman berkualitas tinggi yang tidak hanya berhasil menembus pasar nasional, tetapi juga pasar internasional.

Potensi dan Peluang Ekonomi Lontar

Berdasarkan sebuah penelitian, ada sekitar 5 juta pohon lontar yang tumbuh secara alami di 22 kabupaten di NTT. Sebanyak 80 persen dari jumlah pohon tersebut berusia lebih dari 10 tahun sehingga memiliki nilai tambah ekonomi yang signifikan.

Produk utama lontar adalah nira yang dihasilkan dari sadapan bunga. Setiap petani rata-rata menyadap 25 pohon per hari dengan produksi nira mencapai 3.5 liter per pohon per hari. Produksi ini menghasilkan sekitar 8,5 liter nira yang bisa dijual untuk konsumsi atau industri bioetanol.

Dengan berbagai produk turunannya yang memiliki keunggulan kompetitif, lontar dinilai sangat berguna bagi penduduk setempat sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan.

Melihat potensi permintaan pasar terhadap produk lontar yang kian meningkat, Smesco menilai perlu adanya langkah strategis dan upaya kolaborasi multipihak untuk menjaga keberlanjutan produksi dan kelestarian lingkungan. Dengan begitu, upaya ini juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di NTT.

“Meningkatnya permintaan pasar baik lokal, nasional, dan global akan produk turunan lontar menuntut upaya serius secara multipihak guna menjaga keberlanjutan produksinya di NTT. Selain itu, pengembangan sektor ini dapat menjadi solusi strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nusa Tenggara Timur, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi,” ujar Wientor Rah Mada dalam keterangan resminya di Jakarta pada Senin (24/6/2024).

Forum Group Discussion (FGD) Outlook Ekonomi Lontar 2024

Dalam mewujudkan ekosistem ekonomi berbasis masyarakat di NTT, Smesco Indonesia dan Du Anyam menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) Outlook Lontar NTT 2024.

Sebagai penggerak ekosistem kewirausahaan, Krealogi oleh Du Anyam mengambil peran sebagai enabler komunitas yang nantinya akan aktif terlibat dalam pengembangan kapasitas penganyam dan inovasi produk serta digitalisasi melalui aplikasi.

Kegiatan ini tercipta melalui kolaborasi strategis antara KemenKop UKM, Smesco Indonesia, Du Anyam, Krealogi, Koalisi Ekonomi Membumi, Supernova Ecosystem, Pemerintah Provinsi NTT, Dekranasda, Institusi Keuangan BUMN dan swasta, akademisi, pelaku industri, serta mitra logistik dalam mendukung pemenuhan pasar ekspor produk turunan lontar.

FGD Outlook Ekonomi Lontar 2024 ini diselenggarakan pada 27 Juni 2024 di Kupang. Diskusi ini sejumlah tujuan:

  • Memetakan tata kelola lontar sebagai komoditas strategis di NTT
  • Merumuskan skema kemitraan solutif untuk pengadaan bahan baku lontar
  • Mendorong peningkatan riset dan pengembangan teknologi terkait lontar
  • Membentuk kemitraan pembiayaan dan logistik
  • Memperbarui database kegiatan ekonomi produktif UMKM berbasis lontar

Pendiri Du Anyam sekaligus Direktur Komunitas dan Kemitraan Krealogi Hanna Keraf turut menyatakan bahwa potensi pasar ekspor bagi produsen produk berbasis serat alam dari negara-negara Asia sangat besar.

Pada 2025, pendapatan komunitas dampingan di NTT diperkirakan meningkat dua kali lipat dibanding periode tahun sebelumnya. Namun, beberapa kendala seperti ketersediaan bahan baku, data dan riset pengembangan lontar, manajemen rantai pasok, dan ekosistem produksi masih perlu diatasi. Harapannya, pelaksanaan diskusi lintas sektor dan FGD ini akan menjadi jembatan komunikasi.

Melestarikan pohon lontar bukan hanya sekedar melestarikan alam, tapi juga melestarikan kebudayaan. Mari kita sama-sama turut melestarikan pohon lontar untuk kepentingan kita semua.


Ingin berkolaborasi dengan Krealogi? Kunjungi laman krealogi.com/link

Mari kita #BergerakBerdayaBersama!