Fokus Krealogi Menuju 2026
Di pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT), rumput laut telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia tumbuh mengikuti pasang surut laut, dijemur di halaman rumah, dan menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga pesisir. Bagi masyarakat, rumput laut bukan sekadar komoditas—ia adalah penopang ekonomi yang hadir dekat dengan rumah dan kehidupan sosial mereka.
Sebagai komoditas, rumput laut juga memiliki keunggulan ekologis yang kuat. Budidayanya tidak membutuhkan pupuk kimia, tidak bersaing dengan lahan pangan, dan relatif selaras dengan dinamika ekosistem laut. Karena itu, rumput laut kerap dipandang sebagai fondasi penting bagi masa depan ekonomi pesisir yang lebih berkelanjutan.
Namun, di balik potensi tersebut, tantangan lama masih terasa di berbagai wilayah NTT. Kualitas pascapanen yang belum seragam, keterbatasan akses pasar, serta minimnya nilai tambah di tingkat lokal membuat manfaat ekonomi rumput laut belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat pesisir. Di sinilah kebutuhan akan pendekatan baru menjadi semakin nyata.
Krealogi dan Cara Pandang terhadap Ekonomi Biru
Krealogi memulai perjalanannya di sektor ekonomi berbasis alam jauh sebelum masuk ke rumput laut. Melalui kerja-kerja di ekosistem gambut dan mangrove, Krealogi membangun pendekatan yang menempatkan alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari sistem ekonomi yang harus dijaga agar terus memberi manfaat.
Pengalaman tersebut membentuk cara pandang Krealogi terhadap ekonomi biru: bukan sekadar konservasi, tetapi ekonomi yang memberi alasan nyata bagi masyarakat untuk menjaga ekosistemnya. Ketika Krealogi mulai melihat lebih dekat sektor rumput laut di NTT, pendekatan ini menjadi landasan untuk melangkah—bahwa penguatan ekonomi pesisir harus dimulai dari kebutuhan dan realitas lokal.
Memulai dari yang Dekat: UMKM Nori sejak 2024
Langkah awal Krealogi di sektor rumput laut dimulai pada 2024 melalui pengembangan nilai tambah di tingkat UMKM. Bersama pelaku usaha lokal, Krealogi mendampingi pengolahan rumput laut menjadi produk nori sebagai snack.
Pilihan ini bukan tanpa alasan. Nori relatif mudah diproduksi oleh usaha kecil, membuka peluang kerja di luar aktivitas budidaya, serta memungkinkan identitas pesisir NTT hadir dalam produk konsumsi sehari-hari. Pendekatan ini menjadi cara Krealogi untuk memastikan bahwa rumput laut tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi mulai menciptakan nilai ekonomi yang tinggal lebih lama di komunitas pesisir.
Menguatkan Dasar: Kolaborasi Pengetahuan dan Perencanaan
Seiring berkembangnya keterlibatan di NTT, Krealogi juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat dasar pengembangan rumput laut di tingkat provinsi. Kerja sama ini berfokus pada pemahaman yang lebih utuh terhadap ekosistem pesisir, kondisi sosial-ekonomi pembudidaya, serta arah kebijakan dan pasar rumput laut.
NTT dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil rumput laut terbesar di Indonesia, namun sebagian besar potensinya masih belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui kolaborasi dan pengumpulan data, Krealogi berupaya memastikan bahwa pengembangan ke depan tidak berjalan sporadis, tetapi bertumpu pada perencanaan yang berpihak pada masyarakat pesisir dan keberlanjutan ekosistem laut.
Memperluas Peran Rumput Laut: Bersama Birufinery
Memasuki 2025, Krealogi memperluas peran rumput laut melalui kolaborasi dengan Birufinery dalam pengembangan produk biostimulan berbasis rumput laut dari bahan baku NTT. Langkah ini menandai pergeseran penting: rumput laut tidak hanya dilihat sebagai bahan pangan atau komoditas lokal, tetapi juga sebagai bahan baku solusi berbasis alam untuk sektor yang lebih luas.
Pengembangan biostimulan membuka ruang baru bagi ekonomi pesisir. Ia menciptakan pasar bernilai lebih tinggi, menghubungkan wilayah pesisir dengan sektor pertanian daratan, serta memperkuat posisi rumput laut dalam ekosistem bioekonomi Indonesia. Bagi Krealogi, langkah ini adalah bagian dari upaya menjembatani produksi pesisir dengan kebutuhan sistem ekonomi yang lebih besar, tanpa melepaskan akar lokalnya.
Arah Krealogi Menuju 2026
Memasuki 2026, Krealogi menegaskan fokusnya pada penguatan ekonomi pesisir melalui:
- Peningkatan kapasitas pelaku usaha pesisir,
- Pengembangan rantai nilai rumput laut yang lebih terintegrasi,
- Diversifikasi produk bernilai tambah, dan
- Penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan di wilayah pesisir.
Dalam kerangka ini, rumput laut diposisikan sebagai salah satu pilar strategis—menghubungkan kesejahteraan masyarakat pesisir, ketahanan ekonomi lokal, dan kesehatan ekosistem laut.
Rumput laut NTT menyimpan lebih dari sekadar potensi produksi. Ia adalah ruang pertemuan antara alam, budaya pesisir, dan masa depan ekonomi biru Indonesia. Dengan pengalaman panjang di ekosistem gambut dan mangrove, langkah awal melalui UMKM, serta kolaborasi menuju bioekonomi bersama Birufinery, Krealogi memasuki fase penguatan menuju 2026—mengubah potensi pesisir menjadi peluang ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.
Mari Bergerak Berdaya Bersama!
.jpg)